Showing posts with label Krisis. Show all posts
Showing posts with label Krisis. Show all posts

Wednesday, December 31, 2008

Faktor Utama Usaha Bangkrut

Pengusaha yang bangkrut dan pailit memang sering terjadi, terutama bila terlalu banyak menggunakan uang bank guna meningkatkan usaha agar makin besar, istilahnya menambah modal usaha.

Menambah modal untuk menaikkan omset sih boleh boleh saja asal menggunakan cara cara yang realistis. Kadang yang suka jadi masalah adalah factor manusianya itu sendiri, keserakahan, ketidak sabaran dan kecerobohan. Faktor fator tersebut banyak sekali menjadi penyebab hancurnya bisnis yang sudah dibina bertahun tahun.

Temanku bangkrut dari bisnis perdagangan barang barang kelontongan yang disebabkan factor factor tersebut diatas, terutama sekali factor kecerobohan, dan tidak sabar. Barang yang dibelinya dengan tempo 2 minggu, kemudian dijual tempo lagi dalam 2 minggu juga, wah ini bisa berbahaya, terutama jika cara pembayaran barang tersebut menggunakan Giro. Otomatis jika terlambat menyetor uang ke bank sejumlah tagihan giro sampai batas waktu yang ditentukan sendiri, bank akan memberikan peringatan kepada pemilik Giro tersebut, dan kalau hal ini berulang sampai 3 kali maka bank akan menutup rekening Giro orang tersebut. Faktor tersebut bisa dikatakan sebagai miss management, yang dalam hal ini adalah management hutang.

Faktor ketidak sabaran juga merupakan penyebab utama hancurnya bisnis, misal saja omset per bulan biasanya sekitar 100 juta rupiah, si pengusaha biasanya merasa ada beberapa kali order dari konsumen yang blank gara gara tidak tersedianya barang karena tidak bisa segera membeli barang tersebut yang disebabkan factor dukungan keuangan yang kurang. Karena tidak didukung dengan system komputerisasi yang sempurna maka pengusaha ini hanya menebak nebak saja, sebenarnya dana yang kurang mungkin hanya 20% saja dari total omset, tapi karena penawaran Bank juga menggiurkan maka pengusaha tersebut meminjam Bank sebesar 100 juta. Karena setelah dijalankan ternyata kebutuhan modal tambahan hanya sekitar 20 juta saja, maka yang selebihnya kemudian dibelikan barang pribadi seperti mobil yang nota bene tidak diperlukan untuk menjalankan usahanya. Sementara perputaran uang dan barang semakin besar, yang terjadi bukannya malah memperbesar untung tapi malah sebaliknya memperbesar utang kepada supplier. Kenapa ini terjadi, yang pertama beban pinjaman bank jadi memberatkan, yang kedua beban karyawan semakin besar karena perlu ditambah dengan adanya sirkulasi barang yang semakin besar pula, yang ketiga biasanya semakin terlena dengan kekayaan barunya yaitu mobil, usaha jadi semakin tidak diperhatikan. Perputaran uang semakin besar, justru resiko barang hilang atau rusak juga akan semakin besar.

Kebangkrutan ini biasanya hanya terjadi dalam hitungan bulan saja, bisa dikatakan memerlukan proses 3 bulan saja. Pada kondisi yang stress menyebabkan pengusaha salah dalam mengambil keputusan, misal dalam mengatasi tagihan supplier. Biasanya karena dibawah tekanan supplier yang minta untuk segera dilunasi, maka si pengusaha ini mengatasi pinjaman supplier dari pinjaman cepat seperti rentenir. Maka jadilah beban pengusaha ini meningkat 3 kali lipat hanya dalam waktu 3 bulan saja, dan apa yang terjadi adalah kebangkrutan total.

Pada artikel selanjutnya akan saya ceritakan tentang bagaimana saya mengatasi pengusaha ini dari lilitan hutang ke supplier dan Bank, yang totalnya mencapai 400 juta rupiah. Apakah bisa menggunakan teori Cause and Effect Diagram?

Monday, October 27, 2008

Saham itu Haram bisa Membunuh Ekonomi

Kiriman dari Teman....

Di kuburan besar itu tidak ada penjelasan siapa yang dimakamkan ramai-ramai di situ. Di tiap batu nisannya hanya tertulis kata-kata. begini: penyebab kematiannya adalah keruwetan. Oh, tidak sulit menebak kuburan siapa gerangan itu: Lehman Brothers dan kawan-kawan! Dan, keruwetan yang menyebabkan tewasnya berbagai perusahaan terbesar di dunia itu adalah sebuah urusan yang menurut Warren Buffett, bernama'racun derivatif'.

Racun itu terbuat dari ramuan 'kecerdasan, gairah, dan kerakusan'. Unsur-unsur dalam ramuan itu, misalnya, commercial papers, mortgage-backed securities, short selling, hedging, over the counter, credit default swaps, equity swaps, interest swaps, margin trading,
futures, forward, option, dan banyak lagi.



Kalau toh bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, arti dari tiap-tiap istilah keuangan itu tetap saja ruwet. Seruwet memahami definisi dan peraturannya.

Gampangnya; semua itu adalah anak-cucu dari sistem perbankan yang merasa tidak cukup lagi kalau hanya mendapat keuntungan dari menerima tabungan dan memberi pinjaman. Harus diciptakan produk-produk perbankan yang baru. Itulah derivatif. Yang menciptakannya harus cerdas, bergairah, danrakus. Yang menjalankannya harus bergairah, rakus, dan cerdas. Yang memilikinya tidak harus cerdas, tapi tetap harus rakus dan bergairah.

Saya punya teman pengusaha besar yang asalnya sangat miskin. Dia lima bersaudara. Saudara tertua kerja mati-matian membanting tulang secara fisik. Sampai harus bertani dan kemudian berkebun sendiri.

Lama-lama si sulung itu menjadi pengusaha besar hasil bumi. Dia tidak ingin adiknya tidak sekolah tinggi seperti dirinya. Karena itu, adiknya yang terkecil disekolahkan ke Amerika. Sekolah keuangan. Maksudnya, agar perusahaan keluarga yang dikelola secara tradisional itu kelak bisa jadi perusahaan modern.

Si bungsu sekolah dengan tekun dan jadi ahli keuangan. Ketika pulang, dia merasa perusahaan yang dirintis kakaknya itu harus dibuat modern. Sistem keuangannya harus secanggih di AS, terutama struktur pendanaannya. Si sulung merasa bodoh dan karena itu menyerahkan saja
semuanya kepada si bungsu. Terjadilah krismon. Struktur keuangannya ternyata rapuh. Perusahaan itu mengalami kesulitan yang luar biasa. 'Pak Dahlan, gara-gara adik, sekarang saya harus kembali bertani lagi,' katanya saat krismon masih berlangsung. Syukurlah kini dia sudah jaya kembali.

Sistem keuangan modern memang luar biasa variasinya. Apalagi mendapat dukungan sistem komputer. Perdagangan derivatif kian lama kian membesar. Tentu semuanya di atas kertas atau di layar komputer. Meski namanya jual-beli, yang berpindah tangan bukan barang atau uang, melainkan angka-angka. Bertukarnya juga sangat kilat. Antarnegara sekalipun bisa
secepat kilat. Kalau menanam tebu memerlukan 16 bulan, menanam derivatif hanya dalam hitungan detik.

Enam tahun lalu, Warren Buffett sudah mengingatkan secara terbuka bahaya perdagangan derivatif ini. 'Derivatif adalah senjata pemusnah masal keuangan,' katanya. Waktu itu istilah senjata pemusnah masal lagi top-topnya sebagai alasan Presiden Bush untuk menyerang Irak dan menangkap Saddam Hussein. 'Saya tidak tahu kapan meledak, tapi suatu hari kelak pasti meledak,' tambahnya.

Derivatif ternyata meledak sekarang.

Warren Buffett adalah orang terkaya di dunia saat ini, mengalahkan Bill Gates. Dialah chairman Berkshire Hathaway yang memiliki bisnis ritel terbesar di dunia: Wal-mart. Dia punya pengalaman pahit membeli perusahaan yang rupanya sudah digelembungkan melalui berbagai
perdagangan derivatif.

Mau dia jual lagi tidak laku. Maka dia harus membersihkan 'lemak dan kolesterol' dari perusahaan itu selama lima tahun dengan kerugian yang sangat besar. Dari situ dia menyimpulkan bahwa derivatif pasti akan meledak jadi bom keuangan. Bahkan, dalam lima tahun setelah dia ucapkan, bom itu sudah lima kali lipat besarnya.

Subprime (mortgage) ternyata hanya satu bagian kecil dari penyebab kekacauan keuangan sekarang ini. Volume uang yang terkait dengan derivatif ini jauh lebih besar daripada perkiraan semula yang hanya USD 15 triliun. (Dalam rupiah harus ditulis begini: Rp 141.000.000. 000.000.000, dengan asumsi kurs Rp 9.400 per dolar AS). Bisa jadi transaksi derivatif ini mencapai USD 516 triliun. Angka ini dikeluarkan oleh 'ketuanya' bank-bank sentral seluruh dunia yang disebut Bank of International Settlement (BIS) yang berpusat di Basel, Swiss.

Begitu besar dan ruwetnya, sampai-sampai menurut Buffett, pemerintah mana pun, termasuk USA, tidak bisa lagi mengontrol perdagangan derivatif itu. 'Bahkan, hanya untuk memonitor pun sudah tidak mampu,' katanya.

Derivatif ini sebenarnya sudah sulit dibedakan dengan perjudian. Dalam perdagangan saham murni, meski ada unsur spekulasinya, masih bisa dianalisis. Tapi, dalam perdagangan derivatif yang bisa menganalisis hanya para pelaku sistem itu. Pemilik uang sulit memahaminya.

Saya punya teman baik yang juga penggemar Formula One. Sukanya keliling dunia dan memotret. Dia pernah bekerja keras selama 20 tahun untuk mengumpulkan uang sampai Rp 40 miliar. Uang itu dipercayakan kepada satu bank di Singapura untuk diputar. Masuklah ke mesin derivatif. Dalam hitungan detik, uang itu amblas. Di meja judi pun tidak akan secepat
itu!

'Saya ini kebalikan dari Anda,' katanya menghibur diri. 'Kalau Anda, sakit hati dulu lalu mengeluarkan uang. Kalau saya, mengeluarkan uang dulu, lalu sakit hati,' katanya. Tidak sedikit orang atau perusahaan yang punya jalan hidup seperti itu.

Memang tidak gampang memahami rumus derivatif ini. Saya biasanya menghindar saja, daripada pusing. Kelihatannya memang ndeso, bodoh, dan tidak modern, tapi saya memang benar-benar sulit memahami rumusnya.

Bahkan, rumus itu ternyata memang tidak pernah ada. Kesalahan pokok sistem derivatif adalah tidak adanya kepastian apakah harga saham, uang, bunga, margin, aset, dan seterusnya itu bisa iperkirakan untuk jangka 3 atau 5 atau 10 tahun. Bahkan, tidak bisa diketahui apakah pasarnya itu memang ada. Artinya, kalau satu saham yang dibeli itu kini harganya Rp 1 juta, lalu diperkirakan 5 tahun lagi menjadi Rp 10 juta, maka pertanyaannya adalah:

apakah benar lima tahun kemudian jadi Rp 10 juta? Kalau toh 'ya', apakah ada pembelinya?

Karena kepastian itu memang tidak ada, digunakanlah berbagai asumsi. Sekian banyak asumsi lantas dijadikan satu menjadi 'model'. Variasi dari gabungan asumsi itu melahirkan berbagai model. Belakangan jadilah model itu seperti fakta kebenaran. Yang semula hanya 'model' lantas seperti 'pasar yang sesungguhnya' .

Akibatnya, sebelum transaksi, selalu angka-angkanya dimasukkan begitu saja ke dalam model di komputer.

Komputer yang akan menganalisis. Lalu keluarlah angka-angka akhir: berapa harga saham atau uang itu lima tahun ke depan. Nilai itulah yang kemudian dianggap sebagai kekayaan riil saat ini. Termasuk bisa menjualnya atau menjaminkannya untuk pinjam uang. Jaminan itu lantas
dijaminkan lagi, dijaminkan lagi, dijaminkan lagi . .. . Jadilah, pasar derivatif menjadi sebesar USD 516 triliun.

Betapa besarnya angka itu bisa dilihat dari data BIS berikut ini. Nilai saham dan bond (surat utang atau obligasi) di seluruh dunia hanyalah USD 100 triliun. Total nilai realestat di seluruh dunia (yang di pasar modal) adalah USD 75 triliun. GDP Amerika adalah USD 15 triliun.

Jadi, jangan diingat-ingat tulisan ini.
Pertama, meski sudah disederhanakan penulisannya, tetap saja ruwet.
Kedua, daripada takut sendiri.
Ketiga, investasi di saham arti nya . .. . ?